iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

"YA" Tapi "TIDAK" Melakukannya


Ada beberapa orang anak muda di komunitas kami yang selalu mengatakan “ya” tetapi nayris tak pernah melakukan apa yang sudah disanggupinya. 

Tragisnya, kebiasaan ini selalu berulang-ulang dan tanpa diikuti rasa bersalah.

Dalam rapat-rapat, mereka biasanya menjadi oranv pertama yang mengatakan "ya", "siap", "Au tu si" (gue beresin deh), dll. Sayangnya mereka “tidak” permah melakukannya.

Ini tipe orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka sudah terbiasa dengan pola “janji dulu, pikir belakangan".

Keboasaan ini justru semakin merajalela karena lingkungan sekitar mereka rak pernah "memberikan" sanksi konsekuensi saat mengingkari janji mereka sendiri.

Mereka akan terbiasa mengatakan “ya” demi membebaskan dirinya dadi tekanan saat ditugaskan. Ketika waktunya melaksanakan, ia memilih kenyamanan pribadi daripada memenuhi komitmen. Biasanya mereka akan mencari alasan hingga menvhilang begitu saja.

Sebab, bagi tipe orang macam ini justru tidak merasa tindakannya sebagai kebohongan. Buktinya, saat ditegur, ia langsung nge-gas menjawab, “Saya memang bilang iya, tetapi saya tiba-tiba disuruh si anu membeli sesuatu ke tempat yang jauh."  Begitu seterusnya.

Padagal tindakan macam ini merupakan sikap kurang empati terhadap dampak tindakannya kepada orang lain. 

Mereka samasekali tidak memikirkan bahwa orang lain sudah menunggu, mengandalkan, atau menyusun rencana berdasarkan perkataannya. Tapi, wallahualam, rasa bersalahnya semakin hari justru semakin mengecil.

Sebab kebohongan yang satu akan ditutupi dengan kebohongan yang lain. Kebohongan justru mereka jadikan sebagai mekanisme pembelaan diri. 

Sejauh saya saksikan di "lapangan", kebiasaan ini justru bertujuan untuk menghindari pengakuan bahwa dirinya tidak mampu, malas, lupa, atau tidak mau.

Maka, jawaban “Ya” atau "Siap" menjadi cara untuk mempertahankan citra dirinya sebagai orang yang sanggup.

Benar bahwa kita tidak berhak menghakimi mereka sebagai orang yang “tidak punya hati nurani” atau mengalami gangguan kepribadian. Walaupun, pada kenyataannya, mereka memang menjadi "raja tega".

Di satau sisi, perasaan tega "melihat komunitasnya hancur betantakan" justru menunjukkan adanya "gangguan kejiwaan" dalam diri mereka dengan tipe tersebut 

Sebab "apa yang dia katakan" hampir selalu kontras dengan "apa yang dia lakukan", dan tak punya rasa bersalah setelah ketahuan. 

Parahnya lagi, mereka akan mengulanginya, lagi dan lagi. Dan ketika ditanya, mereka selalu menjawab, "Ya, nanti saya kerjakan.” Walaupun kita tahu kalau hal itu hampir pasti tidak dikerjakan.

Kalau pola ini terus berlangsung, masalah utamanya bukan lagi sekali lupa, melainkan ketidakandalan dalam memegang komitmen.

Saya menghadapi orang seperti ini, semestinya kita tidak boleh berpuas diri dengan jawaban “ya” mereka. 

Katakan secara konkret: “Saya tidak membutuhkan jawaban ‘ya’. Kalau kamu memang tidak sanggup atau tidak mau, katakan terus terang. Saya lebih menghargai ‘tidak’ yang jujur daripada ‘ya’ yang tidak pernah dilakukan.”

Kemudian buat komitmen yang spesifik dan terukur: “Apakah benar kamu akan hadir dan sanggup menyelesaikannya hari Sabtu pukul 14.00?”

Jika jawabannya “ya”, maka ada konsekuensi yang wajar bila tidak dilakukan. 

Jangan terus-menerus menutupi atau menyelesaikan kewajibannya untuk dia, karena tanpa disengaja kita bisa membuat pola tersebut terus bertahan.

Yang juga penting: bedakan antara orang yang sering gagal memenuhi janji karena tidak mampu mengatur diri dengan orang yang sengaja mengatakan “ya” padahal sejak awal tidak berniat melakukannya. 

Keduanya terlihat mirip dari luar, tetapi cara menanganinya berbeda. [LS]
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.